Repositori STIAB Smaratungga

Selamat datang di Repositori Digital Sekolah Tinggi Ilmu Agama Buddha (STIAB) Smaratungga. Platform ini menjadi wadah resmi untuk menyimpan, mengelola, dan menyebarluaskan karya ilmiah sivitas akademika STIAB Smaratungga — mulai dari skripsi, tesis, disertasi, laporan penelitian, hingga publikasi ilmiah lainnya dari berbagai program studi di lingkungan STIAB Smaratungga.

Repositori ini dikembangkan sebagai bagian dari komitmen institusi terhadap keterbukaan akses ilmu pengetahuan (open access), sekaligus sebagai upaya pelestarian dan dokumentasi hasil karya akademik secara digital, terstruktur, dan mudah diakses jangka panjang.

Melalui repositori ini, kami berharap dapat memperluas manfaat hasil penelitian dan karya akademik civitas STIAB Smaratungga bagi mahasiswa, peneliti, akademisi, maupun masyarakat umum yang tertarik pada kajian pendidikan agama Buddha, seni budaya, serta bisnis dan manajemen.

Silakan telusuri koleksi kami melalui menu pencarian, atau jelajahi berdasarkan program studi di bawah ini.

Photo by STIAB Smaratungga

Communities in DSpace

Select a community to browse its collections.

Now showing 1 - 1 of 1

Recent Submissions

  • Item type:Item,
    PENGARUH KOMPETENSI PROFESIONAL DAN MOTIVASI KERJA TERHADAP KINERJA GURU AGAMA BUDDHA DI JAWA TENGAH TAHUN 2026
    (2026-09-02)
    Rusmiyati
    Rusmiyati. 2026. Pengaruh Kompetensi Profesional dan Motivasi Kerja terhadap Kinerja Guru Agama Buddha di Jawa Tengah Tahun 2026. Tesis. Program Studi Magister Pendidikan Keagamaan Buddha, Sekolah Tinggi Ilmu Agama Buddha (STIAB) Smaratungga Boyolali. Pembimbing I: Dr. Kabri, S.Ag., M.Pd., M.Pd.B.; Pembimbing II: Julia Surya, S.Pd.B., M.A., M.Pd., Ph.D. Kata Kunci: kompetensi profesional, motivasi kerja, kinerja guru, Guru Agama Buddha, Jawa Tengah. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh masih bervariasinya kinerja Guru Agama Buddha di Jawa Tengah yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, di antaranya kompetensi profesional dan motivasi kerja. Kompetensi profesional diperlukan untuk mendukung kemampuan guru dalam menguasai materi, mengembangkan pembelajaran, memanfaatkan teknologi, dan melakukan evaluasi pembelajaran, sedangkan motivasi kerja menjadi faktor yang mendorong guru untuk melaksanakan tugas secara optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kompetensi profesional terhadap kinerja guru, pengaruh motivasi kerja terhadap kinerja guru, serta pengaruh kompetensi profesional dan motivasi kerja secara simultan terhadap kinerja Guru Agama Buddha di Jawa Tengah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode ex post facto. Populasi penelitian berjumlah 156 Guru Agama Buddha di Jawa Tengah dan sampel ditentukan menggunakan rumus Slovin. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Analisis data menggunakan statistik deskriptif, uji asumsi klasik, serta analisis regresi linier berganda dengan bantuan program SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kompetensi profesional berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja Guru Agama Buddha dengan nilai signifikansi sebesar 0,000 < 0,05, koefisien determinasi (R²) sebesar 0,708, yang berarti kompetensi profesional memberikan kontribusi sebesar 70,8% terhadap kinerja guru. Motivasi kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja Guru Agama Buddha dengan nilai signifikansi sebesar 0,000 < 0,05 dan koefisien determinasi (R²) sebesar 0,685, yang berarti motivasi kerja memberikan kontribusi sebesar 68,5% terhadap kinerja guru. Secara simultan, kompetensi profesional dan motivasi kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja Guru Agama Buddha di Jawa Tengah dengan nilai signifikansi sebesar 0,000 < 0,05, nilai Fhitung = 113,199, koefisien korelasi R = 0,881, dan koefisien determinasi (R²) sebesar 0,777. Hasil ini menunjukkan bahwa kinerja guru dapat dijelaskan oleh kompetensi profesional dan motivasi kerja sebesar 77,7%, sedangkan 22,3% sisanya dipengaruhi oleh faktor lain di luar penelitian. Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap pengembangan kajian kompetensi profesional, motivasi kerja, dan kinerja guru dalam konteks Pendidikan Agama Buddha. Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan bagi pemerintah, lembaga pendidikan, organisasi keagamaan Buddha, dan para guru dalam merumuskan program peningkatan kompetensi profesional dan motivasi kerja guna meningkatkan kualitas kinerja Guru Agama Buddha secara berkelanjutan.
  • Item type:Item,
    PENGARUH MODERASI BERAGAMA DAN POLA ASUH ORANG TUA TERHADAP TOLERANSI SOSIAL MURID AGAMA BUDDHA TINGKAT SMA DI KOTA SEMARANG TAHUN PELAJARAN 2025/2026
    (2026-09-02)
    Tripitoyo
    TRIPITOYO, 20240100019, 2026. Pengaruh Moderasi Beragama dan Pola Asuh Orang Tua terhadap Toleransi Sosial Murid Agama Buddha Tingkat SMA di Kota Semarang Tahun Pelajaran 2025/2026. Tesis. Program Studi Pendidikan Keagamaan Buddha (S2), Sekolah Tinggi Ilmu Agama Buddha Smaratungga, Boyolali. Pembimbing (1) Dr. Kabri, S.Ag, M.Pd, M.Pd.B., (II) Julia Surya, S.Pd.B.,M.A.,M.Pd.,Ph.D. Kata Kunci: Moderasi Beragama, Pola Asuh Orang Tua, Toleransi Sosial, Murid Agama Buddha, Pendidikan Menengah Atas. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya pembentukan karakter toleransi sosial pada murid agama Buddha yang hidup di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk. Kota Semarang sebagai salah satu kota dengan tingkat keberagaman agama, budaya, suku, dan etnis yang tinggi menjadi lingkungan yang menuntut generasi muda untuk memiliki sikap toleran, terbuka, menghargai perbedaan, serta mampu berinteraksi secara harmonis dengan berbagai kelompok masyarakat. Namun, dalam kehidupan sosial masih ditemukan berbagai fenomena yang menunjukkan rendahnya toleransi sosial, seperti kecenderungan sikap eksklusif, kurangnya empati terhadap kelompok lain, rendahnya kepedulian sosial, serta terbatasnya interaksi positif antarkelompok yang berbeda latar belakang. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya faktor-faktor pendukung yang mampu membentuk dan meningkatkan toleransi sosial peserta didik. Dalam penelitian ini, faktor yang dikaji adalah moderasi beragama dan pola asuh orang tua. Penelitian bertujuan untuk mengetahui: (1) pengaruh moderasi beragama terhadap toleransi sosial murid agama Buddha tingkat SMA di Kota Semarang, (2) pengaruh pola asuh orang tua terhadap toleransi sosial murid agama Buddha tingkat SMA di Kota Semarang, dan (3) pengaruh moderasi beragama dan pola asuh orang tua secara simultan terhadap toleransi sosial murid agama Buddha tingkat SMA di Kota Semarang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode ex post facto. Populasi penelitian terdiri atas seluruh murid agama Buddha tingkat SMA di Kota Semarang yang berjumlah 63 orang. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling, sehingga seluruh anggota populasi dijadikan responden penelitian. Data dikumpulkan melalui penyebaran kuesioner menggunakan skala Likert yang telah melalui pengujian validitas dan reliabilitas. Analisis data dilakukan menggunakan regresi linier sederhana dan regresi linier berganda dengan bantuan program SPSS versi 21. Sebelum pengujian hipotesis, dilakukan uji prasyarat analisis yang meliputi uji normalitas, multikolinearitas, dan heteroskedastisitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa moderasi beragama berpengaruh positif dan signifikan terhadap toleransi sosial murid dengan nilai koefisien korelasi (R) sebesar 0,749 dan koefisien determinasi (R²) sebesar 0,561, yang berarti moderasi beragama memberikan kontribusi sebesar 56,1% terhadap toleransi sosial. Selain itu, diperoleh nilai t hitung sebesar 8,824 dengan signifikansi 0,000 (< 0,05). Pola asuh orang tua juga berpengaruh positif dan signifikan terhadap toleransi sosial murid dengan nilai koefisien korelasi (R) sebesar 0,788, koefisien determinasi (R²) sebesar 0,622 atau sebesar 62,2%, nilai t hitung sebesar 10,008, dan signifikansi 0,000 (< 0,05). Secara simultan, moderasi beragama dan pola asuh orang tua berpengaruh positif dan signifikan terhadap toleransi sosial murid dengan nilai koefisien korelasi (R) sebesar 0,835, koefisien determinasi (R²) sebesar 0,697 atau 69,7%, nilai F hitung sebesar 68,859, dan signifikansi 0,000 (< 0,05). Hasil regresi berganda menunjukkan bahwa pola asuh orang tua merupakan variabel yang memiliki pengaruh lebih dominan dibandingkan moderasi beragama terhadap toleransi sosial murid agama Buddha tingkat SMA di Kota Semarang.
  • Item type:Item,
    PENGARUH MINDFULNESS DAN SELF-EFFICACY TERHADAP KESEHATAN MENTAL REMAJA VIHARA BUDDHAYANA DHARMAWIRA CENTRE SURABAYA
    (VITA AYU RETNA ADYANTI, 2026-10-07)
    VITA AYU RETNA ADYANTI
    Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya kesehatan mental remaja sebagai bagian dari perkembangan psikologis yang dipengaruhi oleh kemampuan individu dalam mengelola pengalaman dan menghadapi berbagai tekanan kehidupan. Dalam konteks pembinaan remaja di Vihara Buddhayana Dharmawira Centre Surabaya, mindfulness dan self-efficacy menjadi dua sumber daya psikologis yang penting dalam mendukung kesehatan mental. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh mindfulness terhadap kesehatan mental remaja, pengaruh self-efficacy terhadap kesehatan mental remaja, serta pengaruh mindfulness dan self-efficacy secara simultan terhadap kesehatan mental remaja di Vihara Buddhayana Dharmawira Centre Surabaya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain ex post facto dan pendekatan korelasional. Populasi penelitian berjumlah 50 remaja berusia 10–22 tahun yang aktif mengikuti kegiatan di Vihara Buddhayana Dharmawira Centre Surabaya. Teknik pengambilan sampel menggunakan sampling jenuh, sehingga seluruh populasi dijadikan sampel penelitian. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner dengan skala Likert. Instrumen penelitian diuji melalui uji validitas dan reliabilitas, sedangkan analisis data meliputi statistik deskriptif, uji asumsi klasik, regresi linear sederhana, regresi linear berganda, uji t, uji F, dan koefisien determinasi dengan bantuan IBM SPSS Statistics 32. Hasil uji reliabilitas menunjukkan nilai Cronbach’s Alpha sebesar 0,880 untuk mindfulness, 0,810 untuk self-efficacy, dan 0,830 untuk kesehatan mental, sehingga seluruh instrumen dinyatakan reliabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mindfulness berpengaruh positif dan signifikan terhadap kesehatan mental remaja dengan koefisien regresi sebesar 0,434, nilai t hitung sebesar 4,765, dan signifikansi p < 0,001. Self-efficacy juga berpengaruh positif dan signifikan terhadap kesehatan mental remaja dengan koefisien regresi sebesar 0,545, nilai t hitung sebesar 5,979, dan signifikansi p < 0,001. Secara simultan, mindfulness dan self-efficacy berpengaruh positif dan signifikan terhadap kesehatan mental remaja dengan nilai F hitung sebesar 170,168 dan signifikansi p < 0,001. Nilai koefisien determinasi sebesar 0,937 dan R Square sebesar 0,879 yang menunjukkan bahwa mindfulness dan self-efficacy secara bersama-sama memberikan kontribusi sebesar 87,9% terhadap variasi kesehatan mental remaja, sedangkan 12,1% dipengaruhi oleh faktor lain di luar model penelitian. Dengan demikian, semakin baik mindfulness dan semakin tinggi self-efficacy yang dimiliki remaja, maka semakin baik pula kondisi kesehatan mental remaja di Vihara Buddhayana Dharmawira Centre Surabaya.
  • Item type:Item,
    PENGARUH MODERASI BERAGAMA DAN POLA ASUH ORANG TUA TERHADAP TOLERANSI SOSIAL MURID AGAMA BUDDHA TINGKAT SMA DI KOTA SEMARANG TAHUN PELAJARAN 2025/2026
    (2026-09-02)
    Tripitoyo
    TRIPITOYO, 20240100019, 2026. Pengaruh Moderasi Beragama dan Pola Asuh Orang Tua terhadap Toleransi Sosial Murid Agama Buddha Tingkat SMA di Kota Semarang Tahun Pelajaran 2025/2026. Tesis. Program Studi Pendidikan Keagamaan Buddha (S2), Sekolah Tinggi Ilmu Agama Buddha Smaratungga, Boyolali. Pembimbing (1) Dr. Kabri, S.Ag, M.Pd, M.Pd.B., (II) Julia Surya, S.Pd.B.,M.A.,M.Pd.,Ph.D. Kata Kunci: Moderasi Beragama, Pola Asuh Orang Tua, Toleransi Sosial, Murid Agama Buddha, Pendidikan Menengah Atas. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya pembentukan karakter toleransi sosial pada murid agama Buddha yang hidup di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk. Kota Semarang sebagai salah satu kota dengan tingkat keberagaman agama, budaya, suku, dan etnis yang tinggi menjadi lingkungan yang menuntut generasi muda untuk memiliki sikap toleran, terbuka, menghargai perbedaan, serta mampu berinteraksi secara harmonis dengan berbagai kelompok masyarakat. Namun, dalam kehidupan sosial masih ditemukan berbagai fenomena yang menunjukkan rendahnya toleransi sosial, seperti kecenderungan sikap eksklusif, kurangnya empati terhadap kelompok lain, rendahnya kepedulian sosial, serta terbatasnya interaksi positif antarkelompok yang berbeda latar belakang. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya faktor-faktor pendukung yang mampu membentuk dan meningkatkan toleransi sosial peserta didik. Dalam penelitian ini, faktor yang dikaji adalah moderasi beragama dan pola asuh orang tua. Penelitian bertujuan untuk mengetahui: (1) pengaruh moderasi beragama terhadap toleransi sosial murid agama Buddha tingkat SMA di Kota Semarang, (2) pengaruh pola asuh orang tua terhadap toleransi sosial murid agama Buddha tingkat SMA di Kota Semarang, dan (3) pengaruh moderasi beragama dan pola asuh orang tua secara simultan terhadap toleransi sosial murid agama Buddha tingkat SMA di Kota Semarang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode ex post facto. Populasi penelitian terdiri atas seluruh murid agama Buddha tingkat SMA di Kota Semarang yang berjumlah 63 orang. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling, sehingga seluruh anggota populasi dijadikan responden penelitian. Data dikumpulkan melalui penyebaran kuesioner menggunakan skala Likert yang telah melalui pengujian validitas dan reliabilitas. Analisis data dilakukan menggunakan regresi linier sederhana dan regresi linier berganda dengan bantuan program SPSS versi 21. Sebelum pengujian hipotesis, dilakukan uji prasyarat analisis yang meliputi uji normalitas, multikolinearitas, dan heteroskedastisitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa moderasi beragama berpengaruh positif dan signifikan terhadap toleransi sosial murid dengan nilai koefisien korelasi (R) sebesar 0,749 dan koefisien determinasi (R²) sebesar 0,561, yang berarti moderasi beragama memberikan kontribusi sebesar 56,1% terhadap toleransi sosial. Selain itu, diperoleh nilai t hitung sebesar 8,824 dengan signifikansi 0,000 (< 0,05). Pola asuh orang tua juga berpengaruh positif dan signifikan terhadap toleransi sosial murid dengan nilai koefisien korelasi (R) sebesar 0,788, koefisien determinasi (R²) sebesar 0,622 atau sebesar 62,2%, nilai t hitung sebesar 10,008, dan signifikansi 0,000 (< 0,05). Secara simultan, moderasi beragama dan pola asuh orang tua berpengaruh positif dan signifikan terhadap toleransi sosial murid dengan nilai koefisien korelasi (R) sebesar 0,835, koefisien determinasi (R²) sebesar 0,697 atau 69,7%, nilai F hitung sebesar 68,859, dan signifikansi 0,000 (< 0,05). Hasil regresi berganda menunjukkan bahwa pola asuh orang tua merupakan variabel yang memiliki pengaruh lebih dominan dibandingkan moderasi beragama terhadap toleransi sosial murid agama Buddha tingkat SMA di Kota Semarang.
  • Item type:Item,
    PENGALAMAN UMAT BUDDHA DALAM MEMPRAKTIKKAN MINDFULNESS DI WIHARA MAHABODHI BUDDHIST CENTER: STUDI FENOMENOLOGIS
    (Munisah, 2026-10-06)
    Munisah
    Perkembangan kehidupan modern yang disertai tekanan psikologis, perubahansosial, dan kompleksitas tuntutan kehidupan menjadikan mindfulness semakin relevan bagi pemeliharaan keseimbangan mental dan spiritual. Namun, mindfulness masih sering dipahami secara terbatas sebagai teknik meditasi atau relaksasi yang terpisah dari landasan filosofis dan spiritual Buddhisme. Penelitian mengenai pengalaman subjektif umat Buddha dalam mempraktikkan mindfulness di lingkungan Wihara juga masih relatif terbatas. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya penelitian yang mengkaji praktik mindfulness berdasarkan pengalaman langsung umat Buddha dalam kehidupan religiusnya. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi pengalaman umat Buddha dalam mempraktikkan mindfulness di Wihara Mahabodhi Buddhist Center, Semarang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologis. Informan dipilih melalui teknik purposive sampling dan berjumlah enam orang, yang terdiri atas lima umat Buddha yang aktif mempraktikkan mindfulness dan satu guru pembimbing. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam semi-terstruktur, dan dokumentasi. Data dianalisis menggunakan prosedur Interpretative Phenomenological Analysis (IPA), yang mencakup transkripsi, pembacaan berulang, penyandian tematik, analisis kasus per kasus dan lintas kasus, refleksi, interpretasi, serta pelaporan. Keabsahan data diperkuat melalui triangulasi, member check, catatan reflektif, dan audit trail. Hasil penelitian menunjukkan dua struktur utama pengalaman mindfulness, yaitu aspek kognitif-perseptual yang mencakup observing dan describing, serta aspek regulatif-spiritual yang mencakup acting with awareness, non-judging, dan non-reactivity. Kelima dimensi tersebut membentuk rangkaian pengalaman yang meliputi kemampuan mengamati dan memahami pengalaman, menghadirkan kesadaran dalam tindakan, menerima pengalaman tanpa penghakiman berlebihan, serta menciptakan jeda sebelum memberikan respons. Praktik mindfulness meningkatkan ketenangan, fokus, kesabaran, penerimaan diri, pengendalian perilaku, dan regulasi emosi, meskipun informan masih menghadapi hambatan berupa rasa mengantuk, ketidaknyamanan tubuh, pikiran mengembara, gangguan lingkungan, dan ketidakkonsistenan latihan. Dalam konteks Buddhis, pengalaman tersebut dimaknai sebagai proses pengembangan sati, sampajañña, sīla, dan paññā, serta pemahaman terhadap anicca. Penelitian selanjutnya disarankan menggunakan desain longitudinal dan komparatif dengan melibatkan informan yang lebih beragam untuk mengkaji perkembangan state mindfulness menuju trait mindfulness serta variasi pengalaman praktik pada komunitas Buddhis yang berbeda.