Pengaruh Kemampuan Pemecahan Masalah dan Dukungan Sosial terhadap Ketahanan Diri Siswa SMA Swasta di Jakarta
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
DOI
Abstract
Kajian ini dirancang untuk menelaah seberapa besar kemampuan pemecahan masalah dan dukungan sosial ikut membentuk ketahanan diri siswa SMA swasta di Jakarta. Persoalan yang melatari kajian ini adalah meningkatnya tekanan akademik maupun sosial yang harus dihadapi remaja, sehingga kesanggupan bertahan dan bangkit kembali menjadi kebutuhan yang mendesak. Pendekatan yang dipakai bersifat kuantitatif melalui survei kausal dengan teknik korelasional. Dua variabel bebas, yaitu kemampuan pemecahan masalah (X1) dan dukungan sosial (X2), diuji pengaruhnya terhadap ketahanan diri siswa (Y). Data dihimpun dengan angket tertutup berskala lima tingkat yang lebih dahulu diuji validitas dan reliabilitasnya, kemudian dianalisis memakai regresi sederhana, regresi ganda, korelasi, serta korelasi parsial. Populasi berjumlah 200 siswa dan sampel sebanyak 133 responden ditetapkan melalui rumus Slovin/Yamane dengan taraf kesalahan 5%.
Temuan penelitian memperlihatkan bahwa kemampuan pemecahan masalah berpengaruh positif dan signifikan terhadap ketahanan diri siswa, dengan koefisien korelasi ry1 = 0,467 dan koefisien determinasi R² = 0,218; artinya 21,8% variasi ketahanan diri dijelaskan oleh kemampuan pemecahan masalah melalui persamaan Ŷ = 110,581 + 0,246X1. Dukungan sosial memberi pengaruh yang lebih kuat, yakni ry2 = 0,606 dengan R² = 0,367 atau 36,7%, melalui persamaan Ŷ = 56,752 + 0,567X2. Ketika keduanya diuji bersama-sama, diperoleh koefisien korelasi ganda R = 0,614 dan R² = 0,377, sehingga 37,7% ketahanan diri siswa dipengaruhi kedua variabel tersebut secara simultan dengan persamaan Ŷ = 59,524 + 0,068X1 + 0,489X2 dan nilai F yang signifikan pada taraf 0,05.
Simpulannya, semakin terampil siswa mengelola dan menuntaskan masalah yang dihadapi serta semakin kuat dukungan yang diperolehnya dari orang tua, guru, dan teman sebaya, semakin tinggi pula ketahanan dirinya dalam menghadapi tekanan akademik maupun sosial. Dukungan sosial terbukti berkontribusi lebih besar daripada kemampuan pemecahan masalah, sehingga penguatan iklim sosial sekolah dan keluarga perlu diprioritaskan. Hasil ini diharapkan menjadi rujukan bagi guru, sekolah, dan penyelenggara pendidikan keagamaan Buddha dalam menyusun program pendampingan siswa yang membina daya lentur diri, kemandirian berpikir, serta kepedulian sosial sebagaimana diajarkan dalam Dhamma.